Skip to main content

UNAS oooh UNAS


Kelulusan UN SMA tahun ini  99.50%, meningkat dari tahun sebelumnya. Banyak Kepala Daerah yang bangga dengan tingginya prosentase kelulusan di daerahnya. Sial bagi Daerah yang prosentase kelulusannya tidak menjadi terbaik, meskipun angkanya cukup tinggi, Kepala Daerah sekaligus Kadiknas-nya rame-rame digugat oleh anggota dewan, bahwa tidak becus mengelola pendidikan meskipun sudah digelontor dengan dana yang sangat besar.

“Kita sudah berusaha mati-matian, tryout UNAS sudah tidak terhitung dilakukan”, itulah salah satu kalimat pembelaan yang keluar dari mulut salah seorang KaDiknas di salah satu Pemerintah Daerah Tingkat II yang ketiban apes, daerahnya mendapatkan peringkat bawah kelulusan UNAS di suatu propinsi. Kalimat naif...masak ketidak berhasilan mencapai peringkat tertinggi kelulusan disanggah hanya dengan alasan tryout....masak Kadiknas dipersalahkan hanya karena peringkat kelulusannya ada dibawah meskipun nilai dan prosentase kelulusannya sangat baik, dua2nya sama naifnya. Beginilah gambaran pemahaman pihak2 yang merasa bertanggung jawab terhadap nasib pendidikan di negri ini, tidak tahu apa sebenarnya tolok ukur keberhasilan suatu sistem pendidikan.

Disamping kondisi memprihatinkan tersebut, Alhamdulilah masih ada pihak2 yang sudah sadar orientasi terhadap dunia pendidikan. Sudah mulai banyak sekolah yang berorientasi kepada bagaimana mempersiapkan person agar siap untuk mandiri dalam mengarungi hidup setelah lulus. Banyak orang tua yang berpikir pragmatis dengan menyekolahkan anaknya ke sekolah kejuruan, kalaupun tidak, orang tua mengirimkan anaknya ke berbagai lembaga kursus, untuk mendapatkan ketrampilan/ skill dalam bidang tertentu yang dapat mendukung knowledge yang diperoleh dari bangku sekolah dan kuliah. Meskipun sebenarnya orientasi pihak2 penyelenggara pendidikan dan lembaga kursus tersebut tetap karena faktor ekonomi, ada margin yang sangat besar di wilayah padat penduduk ini.

Kelulusan tidak harus 100%, tidak ada yang sempurna didunia ini, kecuali Allah Swt. Tuhan Yang Maha Sempurna. Dalam theory SIX-SIGMA-pun, pada level tertinggi 6-Sigma masih ada toleransi kesalahan (three of a million). Theory statistik adalah distribusi normal, dimana at the average (yang normal) populasinya banyak dan punya ruang spread yang sangat lebar, namun demikian masih menyisakan kejadian extreeme, baik extreeme minus maupun extreem plus. Itulah kenapa anak didik sekolah tidak harus lulus semua, apakah siswanya lebih cocok di sekolah kejuruan, kalaupun punya keahlian khusus, apakah sudah disalurkan pada ruang yang dibutuhkan, ataukah sekolah kurang memberikan tempat yang nyaman bagi para anak didik. Tentunya masih banyak root-cause kenapa orang dianggap tidak berhasil pada ukuran “LULUS UNAS”, dan tentunya WAYOUT-nya bisa bermacam-macam. Jadi bukan soal lulus atau tidak, melainkan bagaimana kita menciptakan sistem pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan siswa didik yang berbeda-beda, karena kemampuannya yang berbeda, karena bakatnya yang berbeda, karena ketertarikannnya pada sesuatu yang berbeda pula, juga mungkin latar belakang yang bermacam-macam. Jadi sekali lagi ukuran kelulusan UNAS adalah nol besar.

Belum lagi dugaan bahwa hasil UNAS adalah tidak fair. Jadi, orang yang beranggapan bahwa hasil UNAS harus menjadi barometer, sehingga mau menjadikannya sebagai referensi untuk masuk ke perguruan tinggi, tanpa harus melakukan ujian saringan masuk, dengan dalih efisiensi adalah tidak bijaksana. Kalau hal itu kita paksakan maka energi kita akan habis untuk melakukan tindakan prefentif agar UNAS dapat berjalan dengan fair.

Beberapa faktor psikologis yang sangat mempengaruhi fair tidaknya proses UNAS adalah, salah satunya faktor ekonomi, ada peluang untuk mengumpulkan rupiah dari berjualan bocoran jawaban. Pengiriman materi soal UNAS sejak dari Jakarta sampai ke POLSEK, tidak terhitung titik rawan pembajakan, sehingga kalau mikirin cara antisipasinya habis energi kita untuk itu. UNAS hampir sama dengan KALPATARU, dua-duanya dapat menjadi “tolok ukur” keberhasilan kepala daerah dalam mengelola daerahnya, maka bisa dibayangkan kemungkinan yang terjadi. Belum lagi faktor mental manusia Indonesia, entah orang tua maupun siswa, yang ingin less effort, gain more.

Kalau ada seorang siswa dari suatu kota kecil, di pelosok sana mendapatkan hasil UNAS dengan nilai paling tinggi diantara siswa lainnya diseluruh propinsi atau bahkan seluruh Indonesia, akal saya masih bisa terima. Namun, kalau sekolah favorit di ibukota propinsi atau di kota yang dikenal dengan “kota pendidikan”, sampai berperingkat di bawah dari sekolah dari kota kecil, bahkan peringkat kota dengan label “kota pendidikan” ada pada level bawah diantara kota2 dalam suatu propinsi, maka sulit nalar kita untuk bisa menerima kenyataan tersebut.

Adakan yang berani melakukan uji keabsahan hasil UNAS tersebut?, bagaimana caranya?, sebenarnya mudah saja. Coba kita kumpulkan siswa2 yang berperingkat tinggi UNAS dari sekolah2 di kota2 pelosok, kita gabung dengan siswa2 yang tidak berperingkat UNAS dari sekolah favorit di kota besar, kita berikan test secara bersama-sama, niscaya hasilnya akan dapat kita jadikan penilaian terhadap fairness  pelaksanaan UNAS. Atau kalau cara diatas dianggap terlalu vulgar, dapat kita pantau para mahasiswa dari perguruan tinggi ternama (mis : ITB, UI, UGM, dll), dari sekolah manakah mereka berasal, Mahasiswa yang indeks prestasinya tinggi berasal dari sekolah menengah manakah, niscaya hal inipun akan dapat memberikan gambaran dari kualitas sekolah menengah.

Bukannya kita meremehkan sekolah2 di pinggiran, namun kita harus sepakat, bahwa membangun sistem pendidikan itu tidaklah seperti membalikkan telapak tangan, bisa instant dalam sekejab, dari biasa menjadi nomor wahid. Sesuatu yang baik seharusnya melalui proses yang baik pula. Sekolah2 Favorit yang ada sekarang, perlu waktu bertahun-tahun untuk mendapat julukan favorit tersebut. Dan dengan label favorit tersebut, sekolah itu memperoleh keuntungan mendapatkan bibit2 unggul. So, bagaimana mungkin sekolah dengan input terbaik, bisa kalah dari sekolah yang muridnya “tidak terseleksi secara baik”.

Menurut hemat saya, dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang telah diuraikan diatas, UNAS sebaiknya ditiadakan, kalaupun masih diadakan jangan digunakan sebagai tolok ukur mutlak. Apabila diperlukan memberikan grading terhadap keberhasilan sekolah menengah dalam melaksanakan proses belajar mengajar, atau grading keberhasilan pengelolaan pendidikan di suatu pemerintahan daerah, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Pertama, faktor berapa banyak siswa yang berkuliah di universitas favorit yang berhasil mendapatkan indeks prestasi baik. Kedua, faktor keberhasilan siswa dalam lomba karya ilmiah yang berskala daerah, propinsi atau nasional, dan mungkin masih ada banyak cara untuk melakukan grading terhadap kualitas pengelolaan pendidikan.

Education is not all about Knowledge, but skill and attitude. “Kepinteran ora mung nggo minteri wong kang bodho”. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberikan manfaat bagi sesama, untuk itu manusianya tidak hanya pintar namun juga harus bermoral.

Surabaya, 5 Juni 2012


Comments

Popular posts from this blog

DALAN

Manungsa urip mono mung wenang milih dalan kan bakal diliwati... Kang angka siji, yakuwi dalan kuning, kang werdine dalan kang kerep diliwati wong kang ngegungake akal pikire, mung ngurusi keprigelane uteg, lan akhire njur gelem dha rebut menang, cecengilan, srana perang batin... Angka loro, dalan abang, yakuwi dalane wong kang nggedheake rasane, ngumbar lan nguja hawa nepsune... Kaping telu, dalan ireng kang asring dienggo wira-wiri wong kang nengenake karepe, karep sing kurang mawas kahanan, adat sing uwis, yen ora klakon karepe banjur tumindak ngiwa, nubruk-nubruk... Kang pungkasan, dalan putih, yaiku dalan kang saklumrahe diliwati para suhada, pemimpin kang wicaksana, lan wong kang ngudi kabecikan... Inggal dipilih dalan ngendi sing mbok antepi

Yang Tidak Mungkin itu Normal, Karena hanya Seolah-olah

Kehidupan ini diciptakan Tuhan dengan keaneka ragaman yang berwarna-warni, didukung fakta bahwa manusia diciptakan dengan akal dan nafsunya. Tidak perlu kaget dengan kejanggalan yang terjadi didepan mata kita, itu karena kita masih belum mampu memahami dari perspektif manusia yang menjadi sebab sesuatu  itu terjadi. Termasuk ironi-ironi yang menurut nilai-nilai kita adalah suatu hal yang mustahil, dan faktanya terjadi. On the way Malang-Surabaya, rutinitas yang harus saya jalani setiap senin pagi, termasuk rutinitas mendengarkan radio FM 100MHz Suara Surabaya, sejak roda depan mobil menyentuh aspal Lawang, karena di daerah tersebutlah suara penyiar SS FM mulai terdengar jelas di radio saya. Kata si penyiar, seorang kader partai politik besar, dengan jabatan tinggi dalam partai itu, menyampaikan bahwa “ Kalau politik uang sudah bicara, maka rusaklah tatanan negara ini ” begitulah kurang lebihnya yang dia sampaikan. “Loh...apa gak salah nih”, menyampaikan aib yang selama ini me...