Skip to main content

Paradoks Kehidupan Beragama

Kita sadari bahwa diri kita sebagai manusia harus terjadi proses balancing antara kehidupan sosial kita dengan kehidupan beragama, sehingga kesadaran beragama kita akan menciptakan resultante positif berupa kesalehan sosial, yang diwujudkan dalam kehidupan sosial yang bermoral. Tentunya kita harapkan bahwa Kesadaran Beragama dengan kesalehan sosial menjadi pondasi iman dan takwa, kebesaran jiwa, kebersihan nurani, sehingga dapat melahirkan pandangan optimis dalam menatap masa depan.

Saat ini banyak symptom yang kita lihat bahwa kesadaran beragama telah kehilangan sukma transformatifnya, beragama hanya sebagai alat pencitraan diri. Banyak kamuflase semarak ritual beragama, ada yang melakukan repetitif ibadah haji, namun dalam kesempatan lain melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seorang yang beriman, ada yang dalam kehidupan sehari2 tidak mencerminkan kehidupan seorang muslimah yang baik, tiba2 dalam bulan suci ramadhan berperilaku santun sebagai mana muslimah yang baik. Paradoks kehidupan beragama seperti ini sudah sangat jamak kita lihat disekitar kita.

Hal ini terjadi karena kehidupan beragama berada pada ruang yang exclusive, terpisah dari kehidupan sosial, kesadaran beragama berada diluar tindakan praktis. Disini terjadi kekacauan konseptual dalam mempertalikan peribadatan agama dengan tindakan praktis. Ritualitas agama bermakna hampa, hanyalah sebagai pemenuhan terhadap tuntutan yang bersifat legalistik formal. Selalu berpijak pada tataran pemikiran kalkulatif dan matematis menurut takaran pragmatisme dan materialisme.

Marilah dengan sekuat tenaga kita lakukan balancing dalam hidup ini sehingga kesadaran beragama kita dapat mewujudkan kesalehan sosial....Amin

Comments

Popular posts from this blog

It’s a Simple Word, means a lot It’s a simple word. Kalimat penyemangat, yang dapat menginspirasi, santapan qolbu, datangnya bisa dari mana saja, dari tukang sayur sampai orang besar, dari obrolan warung kopi sampai seminar di hotel bintang, dari yang paling sederhana sampai teori management yang paling rumit. Orang biasa kayak kita ini, ehh…maaf, maksudku kayak saya ini, perlu referensi atau panutan, karena belum mampu menelorkan teori atau menginspirasi orang lain. Referensi itu bisa berupa nasihat, suatu hal yang bisa menginspirasi kita, sehingga mampu men-triger kita untuk melakukan hal-hal yang baik, dan bahkan cenderung kreatif dan produktif. Seperti halnya minggu lalu, di televisi ada obrolan BOB Sadino, yang temanya mungkin sangat remeh, namun dibaliknya ada pelajaran yang bagi orang biasa kayak saya ini menjadi suatu energy daya dorong terhadap pikir dan asa. Banyak orang terbelenggu daya pikirnya, hilang daya khayalnya, dikarenakan oleh diri mereka sendiri. Seorang piyayi ata...

UNAS oooh UNAS

Kelulusan UN SMA tahun ini   99.50%, meningkat dari tahun sebelumnya. Banyak Kepala Daerah yang bangga dengan tingginya prosentase kelulusan di daerahnya. Sial bagi Daerah yang prosentase kelulusannya tidak menjadi terbaik, meskipun angkanya cukup tinggi, Kepala Daerah sekaligus Kadiknas-nya rame-rame digugat oleh anggota dewan, bahwa tidak becus mengelola pendidikan meskipun sudah digelontor dengan dana yang sangat besar. “Kita sudah berusaha mati-matian, tryout UNAS sudah tidak terhitung dilakukan”, itulah salah satu kalimat pembelaan yang keluar dari mulut salah seorang KaDiknas di salah satu Pemerintah Daerah Tingkat II yang ketiban apes, daerahnya mendapatkan peringkat bawah kelulusan UNAS di suatu propinsi. Kalimat naif...masak ketidak berhasilan mencapai peringkat tertinggi kelulusan disanggah hanya dengan alasan tryout....masak Kadiknas dipersalahkan hanya karena peringkat kelulusannya ada dibawah meskipun nilai dan prosentase kelulusannya sangat baik, dua2nya sama na...

Bekerja atau Berkarir

Bekerja atau Berkarir Maknanya bisa sama bisa tidak Bekerja atau Berkarir Bedanya bisa tipis bisa sangat berbeda Akan sama maknanya apabila Jabatan tidak kunjung melambung Akan beda maknanya apabila Pangkat terus meningkat Namun semuanya bergantung Dari sisi mana kita melihat Dari cara pandang mana kita gunakan Dari konsep mana yang kita pikirkan Menjadi susah membedakan Antara idealisme dan bodoh Idealisme sering tidak membuahkan karir Bodoh jelas membuat kita tetap ditempat Terkadang malah sebaliknya Bodoh berbuah karir dengan sebab yang jelas2 tidak jelas Menjadi susah membedakan Antara kalah dan ikhlas Kalah kalau kita tidak mampu melawan Ikhlas seolah2 terlihat seperti pasrah Itu semua disebabkan Cara pandang menang dan kalah Menurut cara pandangku Alasan kenapa kita harus bekerja Kita bekerja sebab harus bekerja Kita bekerja karena harga diri Kita bekerja untuk ridho Allah